Mendaki ke Puncak Misterius Golo Mompong di Pocoleok

0

RM88,00FM, Pocoleok: Di ketinggian 1100 meter dari permukaan laut, hawa dingin dan panas seolah berdiri bersebelahan. Hawa dingin di sebelah barat, hawa panas di sebelah timur. Sepanjang jalur, para pendaki dibalut sejuk teduh kayu-kayu hutan. Di puncak, kuburan dan meriam kuno membawa kita pulang ke ruang-waktu 400 tahun silam. Nikmat yang tak bisa didustakan pecinta mountaineering.

Namanya gunung Golo Mompong. Terselip diantara pegunungan Pocoleok yang melingkari wilayah ulayat Kedaluan Pocoleok. Secara administrasi, gunung ini terletak di Desa Lungar, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Ekspedisi Poco Leok

Tigabelas orang dari tim kecil Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Manggarai memutuskan untuk berkunjung ke Pocoleok. Kebetulan, di sana kami punya dua orang teman pramuwisata profesional. Vandilinus Andur (Vendy) dan Marselinus J. Jaya (Jho). Sepintas, saat pertemuan persiapan pembentukkan HPI Cabang Manggarai beberapa bulan silam, keduanya menceritakan kekayaan alam Pocoleok. Gunung bersejarah, Air Terjun, Kolam Air Panas, dan tentu saja legenda hidup arak lokal Sopi Pocoleok. Kami terkesima. Mengangguk-angguk dan memutuskan untuk melakukan Ekspedisi Pocoleok pada 15-16 Nopember 2020.

Tim berangkat dari Ruteng tanggal 15 Nopember tepat pukul 15.00 wita melalui jalur Golo Lusang menggunakan 2 mobil. Jenis APV dan Rush. Jarak dari Ruteng ke Pocoleok kurang lebih 20 kilometer. Kami menempuhnya dalam waktu 1 jam. Empat puluh (40) menit lebih lama dari biasanya. Maklum, 13 orang ini punya hobi yang sama. Pelototi pemandangan. Jeprat-jepret dari berbagai angle.

Selepas pertigaan di bawah kaki Golo Lusang yang membagi jalan ke arah Pocoleok dan Iteng, kami disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Kontur geografis wilayah Pocoleok didominasi bukit-bukit. Memanjakan mata pelintas dengan pemandangan aduhai. Posisi antara satu bukit dengan yang lainnya yang berdekatan memberi kita kesempatan menyaksikan langsung bagaimana kabut merangsek pelan menyelimuti pepohonan.

Kami tiba di Pocoleok masih sore. Langsung di rumah kawan kami, Vandy di kampung Lungar, Desa Lungar, Kecamatan Satarmese. Kopi panas, pisang & ubi rebus, urapan, dan sambel pedas menyambut kami dengan sukacita. Hmmmm what an amazing jorney. Terimaksaih yah kawan Vendy sekeluarga.

Di kediaman Vendy, kami tidak hanya disambut oleh Vandy sekeluarga, tetapi juga beberapa tokoh masyarakat dan kepala desa Lungar tentunya. Ada juga ketua komisi pariwisata-budaya keuskupan Ruteng, RD Ino Sutam yang kebetulan sedang merayakan syukuran hasil panen (Penti) untuk keluarga besarnya. Memang, sebelum turun, tim ekspedisi Pocoleok telah jauh-jauh hari merencanakan sebuah diskusi kecil dengan masyarakat sekitar. Diskusi ini dilakukan untuk bertukar pikiran soal kehadiran HPI Manggarai di Pocoleok, dan tentu saja beberapa hal yang berhubungan dengan kepariwisataan. Sebelum seruput kopi panas, kami pun diterima secara adat Manggarai. Tuak kapu. Lalu diikuti dengan diskusi hangat hingga pukul 18.00.

Malam hari setelah makan, kami bagi tim ekspedidsi ke dalam 3 kelompok kecil. Tim Air Terjun, Tim Kolam Air Panas, dan Tim Gunung Golo Mompong. Saya, yang tulis artikel ini, masuk di tim yang terakhir. Selesai membagi kelompok, kami istirahat malam. Sebagian di kediaman Vendy, sebagian lagi, terutama tim Golo Mompong, di rumah keluarga RD Ino Sutam di kampung sebelah. Namanya kampung Tere. Kebetulan, keluarga RD Ino Sutam akan ke Golo Mompong juga untuk melakukan ritual adat sebagai bagian dari rangkaian acara Penti.

Pendakian Golo Mompong

Pagi pukul 08.00, tim Golo Mompong sudah siap. Kami berangkat dari Rumah keluarga RD Ino Sutam di Kampung Tere naik mobil. Tidak lama. Hanya butuh kurang dari 10 menit kami sudah tiba di starting point di kaki gunung Golo Mompong.

Menurut RD Ino Sutam yang memandu kami dalam pendakian ini, kehadiran kami di Pocoleok memiliki tanda-tanda yang baik. Katanya, sebuah kebetulan yang luarbiasa, kunjungan kami hampir bersamaan dengan upacara Penti (syukuran hasil panen masyarakat Manggarai). Nah, selain mendapatkan kesempatan ikut upacara Penti malam hari tanggal 15 Nopember, esoknya kami tidak kesulitan mencari pemandu ke puncak Golo Mompong. Kami berangkat bersama RD Ino Sutam dan salah satu orang anggota keluarga yang akan melaksanakan ritual takung empo di Golo Mompong.

Tim memulai pendakian dari ketinggian 900 mdpl. Jalur pendakian di starting point ini masih dikelilingi dengan tumbuhan yang biasa ditemukan di wilayah perkebunan masyarakat seperti alang-alang dan OKD. Tidak butuh waktu lama dari titik start pendakian, kami sudah disuguhi pemandangan landscape Pocoleok. Dari titik ini, dapat dengan mudah melihat lebih dari 14 kampung yang berderet di wilayah Pocoleok. Tanda-tanda baik terjadi. Pagi hari pendakian, cuaca sangat cerah. Kabut tebal yang biasanya menutup beberapa kampung di Pocoleok tersingkap bersih. Hamparan hijau perkebunan dan tumbuhan liar di bagian lembah menyajikan pemandangan tiada duanya. Menawan. Kelak, ini baru satu spot, dari banyak spot view yang kami lalui.

Setelah menikmati pemandangan lanskap Pocoleok, tim melanjutkan perjalanan. Membelah padatnya semak-belukar, rumput liar, jamur, dan beberapa tumbuhan jenis pepakuan. Kurang dari 1 km perjalanan, vegetasi berubah. Jalur pendakian lebih terbuka, lembab dan didominasi tanjakan. Sandal atau sepatu trekking yang proper sangat dibutuhkan.

Pemandangan di Puncak Golo Mompong, Tampak Copang dan Meriam Peninggalan Masa Lalu

Di sepanjang jalur trekking, kami merasakan nuansa hutan hujan tropis yang sempurna. Sejuk membasuh keringat sepanjang jalan. Pepohonan dari berbagai jenis kayu hutan tumbuh berjejer sepanjang jalur. Pagar alami melindungi pendaki dari tebing di kiri dan kanan. Di sini, cukup mudah menjumpai tumbuhan seperti anggrek hutan, tanaman pakis, dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. Selain tumbuhan, suara merdu beberapa jenis burung mengiringi perjalanan. Bahkan, sangkar burung Mountain White Eye, sejenis burung yang sangat membantu dalam proses penyerbukan di alam, mudah saja ditemukan di pinggir jalur trekking.

Di ketinggian 1100 mdpl, ditemukan hawa yang unik. Panas dan dingin seolah berdiri bersebelahan. Dingin di sisi barat, panas di sisi timur. Hawa dingin di sisi barat tentu saja karena lebatnya pepohonan. Sedangkan, di sisi timur, merupakan lembah dimana terdapat uap bersumber dari air panas alami. Maklum, lembah tersebut berada tepat di kaki Gunung Berapi Pocoleok.

Setelah 1,5 jam perjalanan, tim mencapai puncak Golo Mompong di ketinggian 1300 mdpl. Puncak ini berupa dataran yang cukup luas untuk ukuran sebuah puncak gunung. Kurang lebih 800 m2. Di puncak seluas ini, tim menemukan beberapa peninggalan peradaban manusia. Ada kuburan tua, Compang (altar persembahan), Meriam (Diperkirakan buatan Turki), pancuran air minum dan bekas rumah penduduk. Tidak salah lagi, menurut RD Ino Sutam, tempat ini merupakan Bangka Beo (bekas kampung) dari moyang warga kedaluan Pocoleok.

Tim Ekspedisi Berpose di Puncak Golo Mompong

Menurut RD Ino Sutam, moyang adak dan kedaluan Pocoleok bernama Empo Mahmud datang dan tinggal di tempat ini pada akhir abad 15 setelah masehi. Empo Mahfud datang dari Demak-Pulau Jawa, namun sebagian orang mengaku Empo Mahmud datang dari Minangkabau, Sumatera. Ia datang melalui kampung pesisir Warloka, Manggarai Barat, membawa serta sepasang meriam. Konon katanya, sebuah penyakit menyerang keturunan Empo Mahfud dan memaksa mereka untuk mulai meninggalkan kampung Golo Mompong. Mereka menempati daerah dataran rendah. Kini, lebih dari 14 kampung ditempati keturunan Empo Mahmud dengan julukkan Enggo Pocoleok (Kucing Hutan Pocoleok).

Golo Mompong tentu saja sangat direkomendasikan untuk pencinta trekking. Selain mudah dijangkau, tempat ini cocok untuk menghabiskan waktu berakhir pekan. Bahkan, puncak berupa dataran yang cukup luas, sangat cocok dijadikan tempat untuk camping. Selain itu, tempat ini juga sangat cocok untuk foto prewedding bagi pasangan pencinta nuansa gunung.

Ino Jemadu

Share.

About Author

Leave A Reply