ASN Di Matim Bantah Intimidasi Wartawan

0

Kristo Selek, Kepala SD Sare yang sebelumnya dikabarkan mengintimidasi jurnalis posflores.com Kristianus Nardy Jaya saat penetapan calon Kepala Desa di desa Komba, kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur pada 03/10/2019, angkat bicara. Kristo Selek membatah tudingan yang disampaikan Kristianus.

“Kemarin itu saya masuk dan bilang untuk sementara stop dulu pembicaraan. Lalu kemudian wartawan itu mengambil foto dan gambar. Saya larang. Saya bilang tidak boleh ambil gambar saya,” jelas Kristo saat dihubungi melalui telepon oleh RM88,00FM pada Jumat, 04/10/2019 siang.

Kristo membantah video amatir yang memperlihatkan dirinya mencoba merampas kamera wartawan yang saat itu hendak mengambil gambarnya.

“Saya tidak buat apa-apa. Saya hanya omong saja. Saya orang mengerti kok pak. Saya hanya tunjuk saja,” tegas Kristo.

Sementara, terkait sikap yang diambil Aliansi Jurnalis Online (AJO) Matim yang hendak melaporkan dirinya ke Polres Manggarai dan Dinas Pendidikan Matim, Kristo siap menghadapi proses itu jika memang pihak jurnalis merasa dirugikan.

“Tapi saya mau ketemu lansung dulu dengan beliau (wartawan) yang kemarin ada di kantor desa itu untuk melakukan komunikasi,” sambung Kristo.

Sementara prihal dirinya mengamuk di kantor desa itu, kristo menjelaskan itu lantaran kandidat yang dijagokanya tidak diloloskan oleh panitia seleksi calon kepala desa.

“Saya bilang, kamu (panitia pemilihan, red) membuat sms untuk melarang supaya kandidat Kanisius Unda ini tidak boleh hadir pengumuman. Pengumuman itu ditunda. Lalu kalian sudah menetapkan. Kenapa beliau tak tercover, alasan apa kira-kira yang mendasar. Mereka menjawab karena umurnya sudah 55 tahun,” kata Kristo.

Menurut Kristo, berdasarkan persyaratan yang dibacanya, umur maksimal calon 55 tahun dan minimal 25 tahun. sementara kandidat yang mereka dukung masih 55 tahun yang bearti masih bisa lolos menjadi calon.

Sementara ditanya mengenai statusnya sebagai PNS yang seharusnya tidak boleh terlibat dalam politik praktis, Kristo menanggapi dengan santai dan mengaku dirinya tidaklah bertindak anarkis.

“Ya, saya tau pak kalau memang seperti itu, saya mengerti. Yang namanya manusia pasti seperti itu tapi saya tidak anarkis kemarin itu,”
katanya. Dia menambahkan dirinya bukan merupakan tim sukses melainkan relawan dari sang calon yang merupakan keluarga dekatnya.

Dihubungi terpisah, Yohanes A. Anggal selaku ketua panitia seleksi calon kepala desa Komba memberikan klarifikasi terkait dibatalkannya bakal calon yang didukung Kristo Selek.

“Pertama, perlu ditegaskan bahwa itu merupakan keputusan seluruh panitia yang berjumlah 5 orang. Bukan keputusan pribadi ketua,” kata Yohanes.

Yohanes menjelaskan keputusan yang diambil panitia Berdasarkan peraturan Bupati Manggarai Timur No. 23 tahun 2018 tentang pemilihan kepala desa tertuang dalam pasal 30 yaitu terkait syarat tambahan penetapan calon kepala desa.

“Dalam pasal 30 ayat 1 menjelaskan, dalam hal bakal calon yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pasal 24 ayat 1 (yang mengatur syarat umum) lebih dari 5 orang maka panitia seleksi melakukan seleksi tambahan,” Lanjut Yohanes.

Seleksi dimaksud kata dia, dengan menggunakan kriteria, pengalaman kerja di lembaga pemerintahan desa, tingkat pendidikan, usia, tes tertulis dan wawancara.

“Kemudian ada pasal 2, 3, 4, dan yang menjadi dasar kami mengambil keputusan adalah ayat 5 yaitu usia calon paling rendah 25 tahun dan paling tinggi 55 tahun yang dibuktikan dengan akta kelahiran asli,” ungkap Yohanes.

Diungkapkan Yohanes, berdasarkan data yang ada pada panitia, Kanisius Unda lahir pada 19 Desember 1963 dan saat ini usianya sudah masuk 56 tahun plus 10 bulan.

“Artinya menurut panitia sudah lebih dari 55 tahun. Itu berdasarkan konsultasi dengan Dinas PMD Manggarai Timur. Bahwa yang berusia 55 tahun plus satu haru saja dinyatakan tidak lolos,” tegas Yohanes.

Yohanes pun menyayangkan sikap Kristo yang mengamuk seperti pereman, padahal dirinya seorang PNS dan kaum terdidik yang harusnya menjadi panutan bagi masyarakat desa.

Reporter: Arlan Nala
Editor : Ino Jemadu
Foto : Kristianus Nardy Jaya

Share.

About Author

Leave A Reply